BREAKING NEWS

Umum

Category 6

Category 7

From our Blog

Tampilkan postingan dengan label Cerita Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Islam. Tampilkan semua postingan

Abu Bakar As Shiddiq dan Nabi Khidir AS

Abu Bakar dan Nabi Khidir


Bertemunya Abu Bakar As Shiddiq dan Nabi Khidir AS 

Peristiwa ini terjadi pada waktu Rasulullah SAW, wafat.
Para sahabat Nabi merasa sedih dan bercucuran air mata, dan duniapun merasa sedih telah kehilangan rasul akhir jaman panutan kita semua.


Ketika para sahabat Nabi sedih dan menangisi jasad Rasulullah SAW, tiba-tiba datang dan masuk ke kerumunan para sahabat, seorang laki-laki berjenggot sembari menundukkan kepala dan mencucurkan air mata pula.

Laki-laki itu segera bergabung dengan para sahabat dan berkata, "Sesungguhnya Allah telah menyediakan balasan pada setiap musibah, pengganti pada setiap yang hilang, dan khalifah pada setiap yang tiada. Maka kembalikanlah segalanya kepada Allah dan berharaplah kepadaNya. Allah telah mempersiapkan segalanya untuk kalian dan ketahuilah bahwa yang ditimpa musibah adalah orang yang tidak terpaksa".


Kemudian orang tersebut meninggalkan tempat itu.
Para sahabat saling bertanya, "Siapakah sebenarnya orang tersebut?".
Dan Abu Bakar As Shiddiq, segera menjawab, "Beliau adalah Nabi Khidir AS, saudara Rasulullah SAW".

(Riwayat: Baihaqi dari Anas bin Malik).




Source:Buku Misteri nabi Khidir Olen Abu Khalid MA - Lintas Media Jombang 

Nabi Muhammad SAW dan Nabi Khidir

Rasulullah SAW


Bertemunya Nabi Muhammad SAW dan Nabi Khidir  

Saat itu Rasulullah SAW berada di dalam masjid, beliau mendengar suara seseorang sedang berdoa, "Ya Allah, tolonglah hamba atas apa yang bisa menyelamatkan hamba dari apa yang paling hamba takuti".

Rasulullah SAW pun bersabda, "Mengapa orang itu tidak menyertakan pasangan doanya ini; Ya Allah, berilah kepadaku kerinduan orang-orang shaleh yang paling mereka rindukan".

Kemudian Rasulullah SAW meminta tolong kepada seorang sahabat, Anas untuk menyampaikan pesanNya kepada orang tersebut.

Anas mendekati orang tersebut dan menyampaikan pesan Rasulullah SAW, dan orang itu berkata, "Ya, Anas, sampaikan kepada Rasulullah SAW bahwa Allah telah memberi kelebihan karunia kepadaNya di atas para nabi seperti kelebihan kepada umatnya di atas umat para nabi, seperti kelebihan bulan Ramadhan atas bulan-bulan lainnya, dan memberi kelebihan hari jum'at di atas hari-hari yang lain".

Dan orang itu langsung berdoa, "Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan umat yang dimuliakan ini".


Orang tersebut adalah Nabi Khidir AS, kata Anas.
(Riwayat Ibnu Addi dalam Al Kamil, Thabrani dalam Al Ausath, Ibnu Askir dalam Tarikh Damsyiq, Ibnu Abiddunya dari Anas. Riwayat hakim dalam Al Mustadrak).




Source:Buku Misteri nabi Khidir Olen Abu Khalid MA - Lintas Media Jombang 

Nabi Musa dan Nabi Khidir | Bagian 3

Wasiat Nabi Khidir AS Kepada Nabi Musa AS


Wasiat Nabi Khidir AS Kepada Nabi Musa AS  

Kisah ini merupakan lanjutan dari: 
Nabi Musa dan Nabi Khidir | Bagian 1
Nabi Musa dan Nabi Khidir | Bagian 2



Sebelum berpisah dari pertemuannya, Nabi Musa telah meminta wasiat kepada Nabi Khidir, dan Nabi Khidir bersedia memberikan wasiatnya.


Berikut Beberapa Wasiat Nabi Khidir Kepada Nabi Musa 

"Wahai Musa, jadilah kamu orang yang berguna bagi orang lain, dan janganlah menjadi orang yang menimbulkan kecemasan diantara mereka, sehingga kamu dibencinya. Jadilah kamu orang yang senantiasa menampakkan wajah ceria dan janganlah mengerutkan dahimu kepadanya. Dan janganlah pula kamu berkeras kepala atau bekerja tanpa tujuan, apabila kamu mencela seseorang hanya karena kekeliruannya. Kemudian tangisilah dosa-dosamu, hai...Ibnu Imran".


"Wahai Musa, pelajarilah ilmu pengetahuan agar kamu dapat memahami apa yang tidak kamu mengerti, tetapi janganlah kamu jadikan ilmu-ilmu itu sebagai bahan omongan".


"Wahai Musa, sesungguhnya orang yang selalu memberi nasehat itu tidak mengetahui kejemuan seperti yang dirasakan oleh orang-orang yang mendengarkannya. Maka janganlah kamu berlama-lama jika menasehati kaummu.

Dan ketahuilah, bahwa hatimu itu adalah ibarat suatu bejana yang harus kamu rawat dan kamu jauhkan dari hal-hal yang dapat memecahkannya. Kurangilah usaha-usaha duniawimu, dan buanglah jauh-jauh di belakangmu. Karena dunia ini bukanlah alam yang akan kamu tempati selamanya. 

Kamu diciptakan Allah adalah untuk mencari tabungan pahala-pahala akhirat kelak. Bersikaplah ikhlasdan sabar hati menghadapi maksiat kaummu".



"Wahai Musa, tumpahkanlah semua pengetahuan (ilmu), karena tempat yang telah kosong akan terisi oleh ilmu yang lain. Janganlah kamu banyak ngomong dengan ilmumu, tetapi sedang-sedanglah, karena kamu akan diremehkan kaum ulama. 

Dan sifat sederhana itu akan menghalangi aib-Mu dan membuka taufiq Allah untukmu. Lenyapkanlah kejahilan kaummu, dan buang sikap masa bodoh yang mungkin menyelimutimu. Ketahuilah, sikap macam ini hanyalah ada pada orang-orang yang arif bijaksana. 


Apabila datang kepadamu seorang bodoh, kemudian dia mencaci-Mu, redamlah dia dengan kedewasaan dan keteguhan hatimu". 



"Wahai putera Imran, Tidakkah kamu sadari bahwa bahwa ilmu Allah yang kamu miliki hanya sedikit sekali. Sesungguhnya menutup-nutupi kekurangan atau bertindak sewenang-wenang adalah menyiksa diri sendiri ". 



"Wahai putera Imran, jangan kamu buka pintu ini apabila kamu tidak bisa menguncinya. Jangan pula kamu coba-coba menguncinya jika kamu tidak tahu bagaimana membukanya". 



"Wahai putera Imran, barang siapa suka menumpuk-numpuk harta benda, dia sendiri akan mati tertimbun karenanya, sehingga dia merasakan akibat dari kerakusannya. Namun seorang hamba yang mensyukuri semua pemberian Allah dan memohon kesabaran atas ketentuan-ketentuanNya, dialah hamba yang zahid dan mesti diteladani. Bukankah orang itu dapat menguasai syahwatnya dengan mengalahkan bujukan-bujukan nafsu setan? Dan dia pula orang yang mendapat buah dari ilmu yang dulu dicarinya? Segala amal kebajikannya akan dibalas dengan pahala di akhirat, sedangkan kehidupan dunianya akan tentram di tengah-tengah masyarakat yang merasakan jasanya". 



" Wahai Musa, pelajarilah olehmu ilmu-ilmu pengetahuan agar kamu dapat mengetahui segala yang tidak kamu ketahui, seperti perkara-perkara yang tidak bisa kamu omongkan. Dia adalah penuntun jalanmu, dan orang-orang akan disejukkan hatinya".  



"Wahai Musa, putera Imran! Jadikanlah pakaianmu terbuat dari zuhud dan taqwa kepada Allah, pembicaraanmu bersumber dari dzikir dan ilmu pengetahuan, dan perbanyaklah amal kebaikan. Suatu hari kamu tidak akan mampu mengelak dari suatu kesalahan". 



"Wahai Musa, mintalah keridlaan Allah dengan berbuat kebajikan, karena pada saat-saat yang akan datang kamu pasti melanggar laranganNya". Sekarang aku sudah memenuhi permintaanmu untuk memberikan pesan-pesanku kepadamu. Omonganku ini tidak akan sia-sia apabila kamu mau menurutinya".




Begitulah beberapa wasiat Nabi Khidir AS kepada Nabi Musa AS.
Mudah-mudahan kita juga dapat menjalankan wasiat-wasiat tersebut. Amin 3X.




Source:Buku Misteri nabi Khidir Olen Abu Khalid MA - Lintas Media Jombang 

Nabi Musa dan Nabi Khidir | Bagian 2

Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS


Pertemuan Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS  

Kisah ini merupakan lanjutan dari: 
Nabi Musa dan Nabi Khidir | Bagian 1



Setelah Nabi Musa AS dan Yusya' kembali menuju ke tempat batu besar, dan tiba di tempat itu, Nabi Musa mencium aroma aneh dan berkata, "Aku mencium aroma aneh, berarti di sini kita akan menemukan orang shaleh dan berilmu tinggi itu".


Dengan melihat-lihat di sekeliling pantai, mereka menemukan seseorang sedang duduk bersimpuh. Dialah Nabi Khidir, hamba Allah yang shaleh dan berilmu tinggi yang sedang dicari.

Walaupun badannya terlihat kurus ramping, namun matanya tampak berkilau, mengisyaratkan jiwa keNabian terpancar kepadanya. Pancaran wajahnya menandakan bahwa dia seorang yang sangat bertaqwa. Nabi Musa segera memberi salam, "Assalaamu'alaikum, wahai jiwa suci yang berbalut kain putih".

Hamba Allah itu, menjawab, "Wa'alaikum salaam! ya Musa, Nabinya bani Israil".

Nabi Musa terkejut, sambil bertanya, "Engkau tahu, Namaku Musa?".

"Ya, engkau adalah Musa, pemimpin orang-orang Israil", jawab Nabi Khidir.

Dengan keheranan, Nabi Musa menjawab, "Ya, benar. Aku ingin sekali menemui engkau, dan ingin berGuru kepada engkau. Bersediakah engkau mengajari ilmu-ilmu yang benar yang telah engkau dapatkan dari Allah SWT?".

"Sesungguhnya, sekali-kali, engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku", jawab Nabi Khidir (QS Al Kahfi: 67).

Nabi Khidir berkata lagi, "Wahai Musa, sesungguhnya Allah telah mengajariku tentang ilmu-ilmu pengetahuan yang ghaib dan engkau belum diajariNya. Sebaliknya, Allah mengajarimu ilmu-ilmu yang mungkin tidak diajarkan kepadaku".

Nabi Musa menjawab, "InsyaAllah engkau akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun", (QS Al Kahfi: 69).

Kemudian Nabi Khidir AS, balas menjawab, "(Dia berkata): "Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku menerangkannya kepadamu", (QS Al Kahfi: 70).

Mereka sepakat dan segera menyusuri tepian pantai, dan tampak sebuah perahu milik penduduk setempat. Para awak perahu tersebut telah mengenal Nabi Khidir dan berebut mengajak Nabi Khidir ikut dalam perjalanannya tanpa dipungut biaya (gratis). Mereka punya keyakinan, jika bersama orang suci ini, diharapkan insyaAllah akan selamat dalam perjalanannya.

Nabi Khidir berkata kepada Nabi Musa, "Wahai Musa, ketika engkau menaiki perahu ini, apakah engkau melihat kakimu basah oleh air pantai?".

"Ya, aku merasakannya, tapi sekarang sudah kering kembali", jawab Nabi Musa.

Nabi Khidir berkata lagi, "Wahai Musa, ketahuilah, itulah perbandingan ilmu manusia dengan ilmu Tuhan yang maha luas. Air laut ibarat ilmu Allah, dan air yang membasahi kakimu adalah ilmu yang dikaruniakan Allah kepadamu. Karena air di kakimu mengering kembali, maka siapkan pertanggungjawaban di hadapan Allah. Karena Allah akan meminta pertanggungjawaban ilmuNya yang ada padamu sekarang".

Firman Allah, "Sekiranya air seluruh samudera dijadikan tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat Allah, akan kering seluruh samudera sebelum habis kalimat-kalimat Tuhan itu dituliskan. Sekalipun ditambah lagi tinta sebanyak samudera yang lain".


Kemudian perahu telah berlayar ke tengah. Saat para awak perahu sibuk dengan urusannya masing-masing, tiba-tiba Nabi Khidir AS mengambil kapak dan merusak dinding perahu, sehingga perahu tampak jelek.
Melihat kejadian itu, Nabi Musa terperanjat dan bertanya, "Apakah engkau hendak merugikan orang-orang yang telah menerima kita dengan baik ini, dan engkau menginginkan perahu ini tenggelam bersama mereka? Sesungguhnya engkau telah melakukan perbuatan keji".

Nabi Khidir tersenyum arif sambil berkata, "(Khidir) berkata: "Bukanlah aku telah berkata: "Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku", (QS Al Kahfi: 72).

Nabi Musa berkata, "Janganlah engkau menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah engkau membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku", (QS Al Kahfi: 73).

Akhirnya mereka tiba di wilayah perairan yang dikuasai oleh penguasa yang kejam. Penguasa tersebut menyuruh bala tentaranya, agar merampas perahu-perahu bagus yang melewati perairannya. Perahu yang jelek tetap dibiarkan lewat begitu saja. Ternyata Nabi Khidir telah menyelamatkan perahu ini.

Tibalah di suatu tempat, Nabi Khidir yang hendak turun dari perahu, menunjukkan sesuatu kepada Nabi Musa, sambil berkata, "Wahai Musa, Lihat burung laut itu. Dia hanya meminum air secukupnya, dari air laut yang banyak ini. Seperti itulah ilmu Allah yang diberikan kepadamu, jika dibandingkan dengan ilmu yang ada padaNya".

Mereka berjalan di atas pasir menuju suatu perkampungan dan bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang bermain dengan teman-temannya. Lalu Nabi Khidir memanggil anak kecil itu, menangkapnya, dan membunuhnya.

Nabi Musa kaget melihat kelakuan Nabi Khidir sambil bertanya, "Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu melakukan sesuatu yang mungkar", (QS Al Kahfi: 74).

Nabi Khidir menjawab, "Bukankah sudah aku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya engkau tidak akan dapat sabar bersamaku?", (QS Al Kahfi: 75).

Nabi Musa berkata lagi, "Jika aku menanyakan kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah engkau memperbolehkan aku menyertaimu. Sesungguhnya engkau sudah cukup (bersabar) menerima alasan dariku", (QS Al Kahfi: 76).


Dalam perjalanan berikutnya, dengan tubuh lelah mereka akhirnya tiba di sebuah desa, dan mencoba bertamu pada salah seorang penduduk, agar bisa dijamu sekedarnya. Tetapi tidak ada seorangpun penduduk yang mau menerima apalagi menjamunya. Nabi Khidir tidak memaksa dan tidak menampakkan wajah sedih.

Mereka terus berjalan sampai ujung desa dan terdapat sebuah reruntuhan bangunan atau rumah yang hendak roboh. Nabi Khidir menuju ke bangunan itu.
Nabi Musa mengira bahwa Nabi Khidir mengajaknya beristirahat, tetapi Nabi Khidir malah berusaha membangun kembali rumah yang akan roboh itu.
Nabi Musa merasa heran dan memprotes (untuk kesekian kalinya) tindakan Nabi Khidir yang berusaha membangun rumah itu, padahal penduduknya kikir semuanya.

Seperti dijelaskan dalam Al Qur'an, "Maka keduanya berjalan; hingga tatkala mereka sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka bertamu dan minta dijamu kepada pendudk negeri itu. Tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka. Kemudian keduanya mendapatkan di dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Nabi Khidir AS menegakkan dinding itu. Dia (Musa) berkata, "Jika engkau mau, niscaya engkau dapat dapat meminta imbalan untuk itu", (QS Al Kahfi: 77).

Dia (Nabi Khidir) berkata, Inilah perpisahan antara aku dan engkau ; aku akan memberikan penjelasan kepadamu atas perbuatan yang engkau tidak mampu sabar terhadapnya", (QS Al Kahfi: 78). 


Nabi Khidir kemudian menjelaskan tentang segala tindakannya:
"Wahai Musa, ketahuilah bahwa tujuanku merusak perahu, karena perahu itu adalah milik anak-anak miskin yang berusaha mencari nafkah. Dan di seberang lautan ada seorang raja yang selalu merampas perahu yang dijumpainya, namun tidak merampas perahu-perahu yang terlihat jelek dan rusak".

"Tentang membunuh anak kecil. Anak itu dibunuh karena kelak akan memaksa kedua orang tuanya menjadi kafir kepada Allah". Dan Nabi Khidir AS berharap agar Allah menggantinya dengan anak yang shaleh, suci, dan berbakti kepada bapak ibunya".
"Adapun rimah yang dindingnya akan roboh, adalah milik dua anak yatim piatu yang tinggal di negeri Anthokia (wilayah di Turki). Dan di bawah rumah itu, terpendam harta berupa emas dan perak. Kedua anak itu anak yang shaleh. Allah menghendaki agar kelak tumbuh jadi dewasa kemudian mereka bisa mengambil harta itu sebagai rahmat dari Allah".
"Segala yang kulakukan itu bukan dari kehendakku sendiri, melainkan atas wahyu dan petunjuk dari Allah SWT. Kini tiba saatnya kita harus berpisah".


Sebelum berpisah, Nabi Musa meminta wasiat kepada Nabi Khidir. Dan Nabi Khidir bersedia memberikan wasiat itu. 


Wasiat apa saja yang diberikan Nabi Khidir kepada Nabi Musa?

Bersambung ke >>>
Nabi Musa dan Nabi Khidir | Bagian 3 
(Wasiat Nabi Khidir Kepada Nabi Musa)




Source:Buku Misteri nabi Khidir Olen Abu Khalid MA - Lintas Media Jombang 

Nabi Musa dan Nabi Khidir | Bagian 1

Nabi Musa AS


Pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidir 

Kisah antara Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS terdapat dalam Al Qur'an surat Al Kahfi ayat 60 - 82, serta dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Amr bin Dinar, Said bin Jubair, dll.

Pada saat Nabi Musa AS berpidato di depan umatnya (kaum Bani Isarail), beliau mengingatkan kepada umatnya, bahwa Allah telah melimpahkan nikmat dan karunia, dengan bebasnya kaum tersebut dari tertindasnya sebagai budak yang dilakukan oleh Raja Fir'aun.

Peristiwa sebelumnya, saat Raja Fir'aun merasa dikalahkan oleh Nabi Musa AS, akhirnya mengejar kaum Bani Israil yang meninggalkan Mesir menuju Palestina. 
Allah telah menyelamatkan Nabi Musa AS dan kaumnya. Allah memerintahkan Nabi Musa AS memukulkan tongkatnya ke laut, sehingga laut jadi terbelah dan bisa melewatinya. 
Fir'aun-pun terus mengejar. Ketika Fir'aun dan bala tentaranya masih di tengah lautan, Nabi Musa AS memukulkan lagi tongkatnya dan laut menyatu kembali. Fir'aun dan bala tentaranya akhirnya binasa.


Dalam pidatonya, Nabi Musa AS berpesan:
"Allah telah mengembalikan kita ke negeri yang berlimpah nikmat. Jaga kedamaian, jangan benci terhadap sesama, jangan menyakiti tetangga. Mintalah hanya kepada Allah, niscaya akan dikabulkan. Karena nabi kalian adalah penghuni bumi paling utama, seperti yang kalian ketahui dalam kitab Taurat. Syukuri semua pemberianNya, agar kalian selamat dari adzab".

Selesai berpidato, tiba-tiba ada suara yang berasal dari kerumunan tersebut sedang bertanya, "Hai, Nabi Musa, apakah tidak ada lagi orang lain yang lebih pintar dari pada Engkau?".
Nabi Musa, menjawab, "Tidak ada lagi".

Jawaban itu bisa dimaklumi, karena beliau telah mampu mengalahkan semua tukang sihir di Mesir, mengungkap rahasia pembunuhan, menyelamatkan kaumnya dengan membelah laut merah, serta bisa berdialog langsung dengan Allah SWT.

Dengan jawaban, "Tidak ada lagi", akhirnya Nabi Musa mendapat teguran dari Allah SWT berupa wahyu, "Bahwa setinggi apapun ilmu pengetahuan adalah pemberian Allah kepada RasulNya, dan tidak mustahil, masih ada hamba Allah yang lain, yang berilmu lebih tinggi dari pada Nabi Musa".

Untuk menyadarkan, Allah memerintahkan agar Nabi Musa menemui hamba Allah yang shaleh di suatu tempat bertemunya dua lautan (dalam riwayat: antara lautan Roma dan lautan Persia).

"Ya Allah, Siapa dan dimana, agar hamba bisa menemuinya?", tanya Nabi Musa.
Allah berfirman, "Bawalah seekor ikan, masukkan ke dalam keranjang. Jika nanti, ikan itu menghilang, maka di tempat itu, hamba Allah yang shaleh yang engkau cari, berada".

Nabi Musa segera menyiapkan bekal perjalanan dan mengajak muridnya yang bernama Yusya' bin Nun, dan berkata, "Yusya' aku akan melakukan perjalanan jauh, mencari hamba yang shaleh, yaitu di suatu tempat bertemunya dua lautan. Maukah engkau menemaniku?. 

Yusya' menjawab, "Hamba bersedia, walaupun bertahun-tahun lamanya, sampai engkau menemukan hamba shaleh tersebut. Semoga Allah selalu melindungi kita selama dalam perjalanan".

Berangkatlah mereka berdua dan Nabi Musa berpesan,
"Yusya' beritahu aku, jika ikan dalam keranjang ini menghilang. Berarti di tempat itu, kita bisa bertemu dengan orang yang kita cari".

Dalam perjalanan, melewati panas dan hujan, mereka melanjutkan perjalanan menyusuri pantai. Sampai akhirnya mereka kelelahan dan sampai pada sebuah batu besar. Di tempat itu ada sebuah lorong gua dan akhirnya mereka beristirahat dan tertidur lelap.

Setelah terbangun dan badan terasa segar kembali, mereka melanjukan perjalanan tanpa diketahui, ternyata sudah sangat jauh jarak dari tempat beristirahat sebelumnya (di goa batu besar).
Dan tiba-tiba Nabi Musa merasa lapar dan menyuruh Yusya' mengeluarkan ikan dalam keranjang.

Dalam Al Qur'an digambarkan bahwa perjalanan itu berlangsung sehari semalam.
Nabi Musa berkata kepada muridnya,
"Bawalah ke sini makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini". (Al Kahfi: 62).

Ketika Yusya' akan membuka keranjang, saat itu juga beliau teringat pada kejadian hilangnya ikan di keranjang.

Yusya' berkata kepada Nabi Musa AS,
"(Muridnya menjawab): " Tahukah engkau, tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya, kecuali setan. Dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali". (QS Al Kahfi: 63).

" Jadi, ikan itu menghilang di batu tempat kita tertidur kemaren?", tanya Nabi Musa.

"Benar! Ikan yang mati dan kering itu, hidup lagi dan meloncat dari keranjang dan berjalan di daratan seperti berjalan di dalam air. Aku mengejarnya, tapi tidak berhasil. Sampai akhirnya, ikan itu meloncat ke dalam air laut dan menuju ke tengah", jawab Yusya'.

"Sungguh ajaib", mengapa tidak engkau katakan kepadaku", Nabi Musa, berkata.

Yusya' menjawab, "Rupanya setan telah melalaikan aku, sehingga aku lupa memberitahukan kepada engkau".

Nabi Musa, berkata, "Berarti tempat itu yang kita cari".

Kemudian keduanya kembali ke tempat sebelumnya, di batu besar.



Bersambung ke >>> Nabi Musa dan Nabi Khidir | Bagian 2




Source:Buku Misteri nabi Khidir Olen Abu Khalid MA - Lintas Media Jombang 
 
Copyright © 2015 - 2016 ~ Berita Islami Kita | Powered by Blogger
Privacy Policy | Terms And Conditions